SS MUDA

Mendiskusikan Hoaks Hingga Diskriminasi Gender Bersama Unicef

Laporan Suara Surabaya Muda | Minggu, 24 Maret 2019 | 11:58 WIB
Suara Surabaya Muda saat berdiskusi dengan Debora Comini perwakilan Unicef untuk Indonesia. Foto: Larasati suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Pada Sabtu (23/3/2019), Suara Surabaya Media mengadakan workshop kedua Suara Surabaya (SS) Muda Batch 2. Berbeda dengan sebelumnya, workshop kali ini mendatangkan Debora Comini, perwakilan Unicef untuk Indonesia. Debora bercerita kepada kita generasi milenial tentang potensi yang dimiliki oleh anak-anak muda, yang tidak dimiliki oleh orang dewasa.

Untuk itu, kita sebagai generasi muda harus terus mengasah apa yang kita miliki hingga pada suatu hari kita dapat mencapainya. Hal itulah yang membuat kita menjadi generasi tanpa batas.

Debora juga bercerita kepada kami, bahwa di kota kelahirannya, berita menimbulkan perpecahan yang akhirnya memunculkan anggapan bad news is good news. Terakhir, ia bercerita bahwa di beberapa kota masih ada diskriminasi terhadap kaum wanita. Hal itulah yang mendorong Debora untuk bergabung dalam Unicef.

Debora juga bertanya kepada kami, salah satunya tentang bagaimana cara kami, Suara Surabaya Muda, mengatasi berita hoax dan menangani supaya berita tidak menjadi unsur perpecahan. Selain itu ia menanyakan makna 'generasi tanpa batas' menurut kami, juga tentang bagaimana pandangan kami tentang diskriminasi terhadap kaum wanita.


Menurut saya sendiri, Suara Surabaya Muda sebagai bagian dari Suara Surabaya Media menganut paham "tidak perlu jadi yang tercepat, tetapi jadilah yang tertepat". Sehingga kami akan memfilter segala jenis berita yang ada, dan memastikan kebenarannya. Setelah itu, kita akan memfilter berita itu lagi.

Meskipun berita tersebut memiliki nilai jual, tetapi jika berita tersebut menimbulkan perpecahan, maka kami tidak akan mempublikasikanya agar menimbulkan anggapan baru yaitu "good news is good news". Itulah yang membuat Radio Suara Surabaya menjadi radio yang terpercaya.

Lalu tentang bagaimana pandangan kami tentang generasi tanpa batas, jika berbicara tanpa batas kita harus melihat kebelakang terlebih dahulu. Ini karena pada zaman dulu penuh dengan keterbatasan di segala bidang dan membuat remaja pada zaman dulu harus mengikuti arahan dari orang tua. Namun sekarang berbeda, kita bisa menentukan jalan kita sendiri.

Kita bisa menjadi apapun yang kita inginkan tanpa adanya batasan. Ada banyak komunitas yang bisa mengasah bakat kita. Ada banyak sekali media yang dapat menunjang bakat kita dan pada akhirnya tidak ada lagi anggapan orang sukses adalah orang yang banyak uang. Tetapi orang sukses adalah orang yang dapat meraih mimpinya apapun yang terjadi.

Lalu yang terakhir tentang bagaimana pandangan kami tentang diskrimasi terhadap wanita. Kita sudah tidak mengenal diskriminasi wanita karena ibu Kartini. Beliau adalah pahlawan yang memperjuangkan emansipasi wanita di Indonesia pada tahun 1992 dan itu memiliki dampak yang besar untuk Indonesia. Lima tahun setelah kejadian itu, runtuhlah anggapan wanita hanya boleh bekerja sebagai ibu rumah tangga. Tiga tahun setelahnya lagi, runtuhlah anggapan politik hanya untuk pria. Dan pasti di masa yang akan datang, tidak ada lagi "anggapan tutup buku bukak terop". Dan di saat itulah kaum wanita benar-benar diakui di Indonesia dan kelak di seluruh dunia.(ryan/tin)


Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.