SS MUDA
SS Muda Batch 3

Jurnalisme Warga Tetap Jadi Kekuatan Suara Surabaya

Laporan Agung Hari Baskoro | Sabtu, 26 Oktober 2019 | 10:26 WIB
Errol Jonathans Direktur Utama Suara Surabaya Media saat di hadapan para peserta SS Muda Batch III, di Radio Suara Surabaya, Sabtu (26/10/2019). Foto: Baskoro suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Jurnalisme Warga tetap menjadi kekuatan Radio Suara Surabaya (SS). Errol Jonathans Direktur Utama Suara Surabaya Media mengatakan, sejak tahun 1984, atau setahun setelah Radio Suara Surabaya berdiri, jurnalisme warga telah menjadi kekuatan utama radio ini.

Bicara pada workshop pertama Suara Surabaya Muda (SS Muda) Batch 3 di Kantor Suara Surabaya Media, Jalan Wonokitri Besar 40C, Surabaya, Sabtu (26/10/2019), saat ini sudah ada 649 ribu pendengar SS yang juga berperan sebagai reporter. Kepeloporan ini, juga mendapatkan penghargaan pada 2017 di Hari Pers Nasional sebagai Media Pelopor Jurnalisme Warga.

"Mereka (pendengar, red) harus telepon ke SS. Perkembangan jurnalisme warga itu yang menjadikan SS semakin kuat. Wajar (hari ini, red) untuk warga melaporkan apa-apa yang hilang. Misal ada mobil hilang, penyiar arahkan pendengar. Ketahuan, langsung on air. Dikejar sampai ketahuan," ujar Errol pada Sabtu (26/10/2019).

Selain melaporkan kehilangan kendaraan, warga juga terbiasa melaporkan hal-hal lain. Misalnya orang tua pikun yang hilang, binatang peliharaan hilang, kebakaran, hingga kemacetan di jalan.


Mundur ke tahun 1983, di awal Radio SS terbentuk, SS sudah membedakan dirinya dengan kebanyakan radio saat itu. Radio ini mengusung konsep radio berita disaat kebanyakan lain memilih musik dan hiburan.

Kepada puluhan pelajar SS Muda Batch 3, ia menjelaskan jika media arus utama seperti radio, televisi, dan koran masih menjadi validator informasi yang beredar di media sosial.

"Ngeceknya ke media-media lama ini. Kedudukannya masih sangat kuat.
Kita bekerjanya berdasarkan regulasi dan UU," katanya.

Ia juga memberikan pesan, agar SS Muda Batch 3 bisa menjadi milenial yang cerdas. Ia berharap, mereka biaa menjadi pioner bermedia yang baik. Selain itu, Errol juga menjelaskan, jika saat ini media masuk ke era komvergensi. Sehingga seorang jurnalis juga harus menguasai kompetensi yang beragam.

"Kompetensi yang dibangun bukan hanya single competency. Harus bisa bicara, liputan, memotret, dan bikin video," jelasnya.(bas/tin/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.